Skip to content

BIOMONITORING & BIOMARKER LINGKUNGAN

23 Desember 2010

Pada umumnya penilaian paparan bahan kimia terhadap manusia adalah dengan cara pemantauan lingkungan. Telah diketahui bahwa untuk mengevaluasi suatu paparan bahan kimia terhadap manusia, tergantung dari faktor sifat fisikokimia suatu bahan, higiene manusia itu sendiri serta beberapa faktor biologi antara lain umur dan jenis kelamin. Untuk mempelajari kandungan bahan kimia di dalam tubuh manusia dan efek biologi dari bahan kimia tersebut dipakai metode pemantauan biologi (biological monitoring). Keuntungan dari pemakaian metode ini adalah terkaitnya bahan kimia secara sistematik yang dapat dipakai untuk memperkirakan risiko yang terjadi. Baca selanjutnya…

TOKSIKOLOGI PESTISIDA

6 Desember 2010

MANFAAT PESTISIDA

Pestisida adalah zat untuk membunuh atau mengendalikan hama. Hama yang paling sering ditemukan adalah serangga. Beberapa diantaranya berlaku sebagai vektor untuk penyakit. Insektisida dapat membantu mengendalikan penyakit-penyakit tersebut. Serangga juga merusak berbagai tumbuhan dan hasil panenan. Karena itu, insektisida dipergunakan secara luas untuk melindungi berbagai produk pertanian. Meskipun kebanyakan insektisida yang dipergunakan sekarang ini adalah bahan kimia sintetis, beberapa zat alami telah digunakan oleh petani sejak zaman dahulu. Zat ini antara lain adalah nikotin dari tembakau. Baca selanjutnya…

TOKSIKOMETRIK

11 November 2010

PENDAHULUAN

Sifat spesifik dan efek suatu paparan secara bersama-sama akan membentuk suatu hubungan yang lazim disebut sebagai hubungan dosis-respon. Hubungan dosis-respon tersebut merupakan konsep dasar dari toksikologi untuk mempelajari bahan toksik.
Penggunaan hubungan dosis-respon dalam toksikologi harus memperhatikan beberapa asumsi dasar. Asumsi dasar tersebut adalah: Baca selanjutnya…

INTERAKSI ZAT KIMIA

3 November 2010

Salah satu masalah dalam toksikologi terutama toksikologi lingkungan adalah kenyataan bahwa orang praktis selalu menggunakan campuran zat, yang seringkali susunan kualitatif dan kuantitatifnya beragam. Akibatnya penentuan risiko yang timbul akibat pemakaian campuran zat hampir tidak mungkin. Zat toksik biasanya berada dalam bentuk campuran/kombinasi, sehingga harga MAC tidak begitu berarti. Oleh karena itu harga MAC bukan merupakan nilai pasti, tetapi hanya merupakan batas yang diizinkan. Dalam praktek, harus digunakan konsentrasi yang secara ekonomis dan teknis paling rendah. Tujuannya bukan batas-tanpa-efek (no-effect-level) melainkan batas-tanpa-risiko (no-risk-level). Baca selanjutnya…

FAKTOR RISIKO TERHADAP TOKSISITAS

19 Oktober 2010

Setiap zat pada dosis tertentu dapat bekerja sebagai racun. Seringkali keadaanlah yang menentukan apakah suatu zat bekerja toksik atau tidak. Zat berbahaya adalah zat yang risikonya besar. Untuk mendapatkan data risiko pengaruh zat berbahaya ini ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Faktor-faktor tersebut akan dibahas berdasarkan fase toksik, yaitu fase eksposisi, fase toksikokinetik, dan fase toksikodinamik. Baca selanjutnya…

Manajemen Kesehatan Lingkungan Dalam Bencana

14 Oktober 2010

Area Prioritas Intervensi Kesehatan Lingkungan

Kelangsungan dan rehabilitasi yang segera dari layanan kesehatan lingkungan yang efektif merupakan prioritas utama dalam manajemen kesehatan darurat setelah serangan bencana alam. Pertimbangan pertama harus diberikan ke wilayah yang risiko kesehatannya meningkat. Wilayah semacam ini memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan pelayanan yang mengalami kerusakan parah. Area prioritas kedua adalah wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi sementara tingkat kerusakannya menengah, atau wilayah dengan kepadatan menengah dan tingkat kerusakan parah. Prioritas ketiga harus diberikan pada daerah yang kepadatan penduduknya rendah dan tingkat kerusakan layanannya rendah. Baca selanjutnya…

EFEK TOKSIK

14 Oktober 2010

Efek toksik sangat bervariasi dalam sifat, organ sasaran, maupun mekanisme kerjanya. Pengertian yang mendalam mengenai ciri-cirinya berguna untuk menilai bahayanya bagi kesehatan, dan untuk mengembangkan upaya pencegahan dan terapi.

Semua efek toksik terjadi karena interaksi biokimiawi antara toksikan (dan/atau metabolitnya) dengan struktur reseptor tertentu dalam tubuh. Struktur itu dapat bersifat non-spesifik, seperti jaringan yang berkontak langsung dengan bahan korosif. Tetapi pada umumnya struktur itu spesifik, misalnya struktur subseluler tertentu. Berbagai struktur, termasuk reseptor dapat juga dipengaruhi. Sifat efek toksik pun dapat berbeda. Baca selanjutnya…

  • Arsip