Skip to content

Pengaruh Bencana Terhadap Kesehatan

3 September 2010

Walau semua bencana memang memiliki ciri khasnya sendiri – bencana memberikan pengaruh dalam tingkat kerentanan yang berbeda pada daerah dengan kondisi sosial, kesehatan, dan ekonomi tertentu – masih ada kesamaan di antara bencana-bencana tersebut. Jika disadari, faktor-faktor umum itu dapat digunakan untuk mengoptimalkan pengelolaan bantuan kemanusiaan bidang kesehatan dan mengoptimalkan sumber daya yang ada (lihat Tabel 1.1).

Tabel 1.1. Pengaruh jangka pendek bencana besar.

Pengaruh Gempa bumi Angin ribut (tanpa banjir) Gelombang pasang/ banjir bandang Banjir perlahan Tanah longsor Gunung meletus/ lahar
Kematian* Banyak Sedikit Banyak Sedikit Banyak Banyak
Cedera berat memerlukan perawatan ekstensif Banyak Sedang Sedikit Sedikit Sedikit Sedikit
Peningkatan risiko penyakit menular Risiko potensial yang muncul pasca-semua bencana besar

(Probabilitas meningkat seiring bertambahnya kepadatan penduduk

dan memburuknya sanitasi)

Kerusakan

fasilitas

Kesehatan

Parah (struktur dan peralatan) Parah Parah tetapi terlokalisasi Parah (hanya perlengkapan) Parah, tetapi terlokalisasi Parah (struktur dan perleng- kapan)
Kerusakan sistem penyediaan air Parah Ringan Parah Ringan Parah, tetapi

terlokalisasi

Parah
Kelangkaan

bahan pangan

Jarang (dapat terjadi akibat faktor ekonomi dan logistik) Biasa Biasa Jarang Jarang
Perpindahan

besar-besaran

penduduk

Jarang (dapat terjadi di wilayah perkotaan yang rusak berat) Biasa (umumnya terbatas)

Poin-poin berikut harus diperhatikan:
1. Terdapat hubungan antara tipe bencana dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Pernyataan itu khususnya benar berkaitan dengan dampak langsungnya dalam menyebabkan cedera. Contoh, gempa bumi dapat menyebabkan banyak kasus cedera yang memerlukan perawatan medis, sedangkan kasus cedera akibat banjir dan gelombang pasang relatif sedikit.
2. Sebagian pengaruh bencana merupakan ancaman yang potensial, bukan ancaman yang dapat dihindari, terhadap kesehatan. Contoh, perpindahan penduduk dan perubahan lingkungan yang lain dapat menyebabkan peningkatan risiko penularan penyakit, walaupun kasus epidemik umumnya bukan merupakan akibat bencana dam.
3. Tidak semua risiko kesehatan yang potensial dan aktual pascabencana akan terjadi di waktu yang bersamaan. Alih-alih, risiko itu cenderung muncul di waktu yang berbeda dan cenderung berbeda tingkat kepentingannya di wilayah yang terkena bencana. Dengan demikian, jatuhnya korban biasanya terjadi di waktu dan tempat terjadinya dampak dan korban itu membutuhkan perawatan medis segera, sedangkan risiko meningkatnya penularan penyakit membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk berkembang dan risiko tersebut memuncak di tempat yang berpenduduk padat dan standar sanitasinya memburuk.
4. Kebutuhan makanan, tempat tinggal sementara, dan layanan kesehatan dasar saat bencana biasanya tidak menyeluruh. Bahkan orang yang selamat sering kali dapat menyelamatkan beberapa keperluan dasar untuk hidup. Lagipula, orang pada umumnya segera pulih dari keterkejutan mereka dan secara spontan terlibat dalam pencarian dan penyelamatan korban, pemindahan orang yang cedera, dan kegiatan pemulihan swadaya lainnya.
5. Perang sipil dan konflik menimbulkan kumpulan masalah kesehatan masyarakat tersendiri dan kendala-kendala operasional. Masalah itu tidak akan dibahas secara mendalam pada buku ini.

Pengelolaan bantuan kemanusiaan sektor kesehatan secara efektif akan bergantung pada upaya antisipasi dan identifikasi masalah saat kemunculannya, dan pada penyampaian bahan-bahan khusus di waktu dan tempat yang memang membutuhkan. Kemampuan logistik untuk mengangkut jumlah maksimum suplai/persediaan dan tenaga kemanusiaan dari luar negeri ke daerah bencana di Amerika Latin dan Karibia tidak begitu penting. Uang tunai merupakan bantuan yang paling efektif, khususnya karena uang dapat digunakan untuk membeli suplai di daerah setempat.

MASALAH KESEHATAN UMUM SAAT BENCANA ALAM
Reaksi Sosial
Setelah suatu bencana alam yang besar, sikap penduduk jarang mencapai tingkatan panik atau berdiri diam. Tindakan individual yang spontan tetapi sangat terkelola bermunculan saat mereka yang selamat pulih dengan cepat dari syok dan mulai bersiap diri untuk mencapai tujuan personal yang jelas. Korban selamat gempa bumf kerap memulai upaya pencarian dan penyelamatan segera setelah gempa berlangsung dan dalam hitungan jam mereka mungkin telah membentuk kelompok-kelompok untuk membawa korban yang cedera ke pos pengobatan. Perilaku antisosial yang aktif, misalnya penjarahan besar-besaran, hanya terjadi dalam kondisi tertentu.
Walau setiap orang berpikir reaksi spontan mereka merupakan hal yang wajar, tindakan itu justru dapat membahayakan kepentingan tertinggi masyarakat. Suatu konflik peran pada seorang kepala keluarga yang juga seorang pegawai kesehatan, misalnya, dalam beberapa kejadian justru menyebabkan tokoh kunci itu tidak melaporkan diri untuk bertugas sampai kerabat dan harta mereka dalam keadaan aman.
Desas-desus menyebar, khususnya tentang penyakit epidemik. Akibatnya, pihak otoritas mendapat tekanan besar untuk melakukan kegiatan kemanusiaan darurat seperti vaksinasi massal terhadap tifoid dan kolera, tanpa konfirmasi medis yang tepat. Selain itu, penduduk mungkin enggan terlibat dalam upaya yang menu-rut pihak otoritas perlu dilakukan. Selama masa siaga, atau setelah kejadian suatu bencana alam, orang enggan untuk mengungsi walau rumah mereka kemungkinan akan atau memang sudah hancur.
Pola perilaku itu menimbulkan dua dampak utama pada para pengambil keputusan mengenai program kemanusiaan. pertama, pola perilaku dan permintaan akan bantuan emergensi dapat dibatasi dan dimodifikasi dengan menjaga agar penduduk mengetahui informasi yang ada dan dengan mendapatkan informasi yang diperlukan sebelum memulai program pemulihan yang lebih luas. Kedua, populasi itu sendiri akan melaksanakan sebagian besar upaya penyelamatan dan pertolongan pertama, membawa korban cedera ke rumah sakit jika rumah sakit itu dapat dijangkau, membangun penampungan sementara, dan melakukan tugas esensial lainnya. Dengan demikian, sumber daya tambahan harus diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan yang tidak dapat dipequhi sendiri oleh korban yang selamat.

Penyakit Menular
Bencana alam tidak biasa menimbulkan KLB penyakit menular secara besar-besaran walau pada keadaan tertentu bencana alam dapat meningkatkan potensi penularan penyakit. Dalam jangka waktu yang singkat, peningkatan insidensi penyakit yang paling sering terlihat terutama disebabkan oleh kontaminasi feses manusia pada makanan dan minuman. Dengan demikian, penyakit semacam itu umumnya adalah penyakit enterik (perut).
Risiko terjadinya KLB epidemik penyakit menular sebanding dengan kepadatan penduduk dan perpindahan penduduk. Kondisi ini meningkatkan desakan terhadap suplai air dan makanan serta risiko kontaminasi (seperti dalam kamp pengungsi), gangguan layanan sanitasi yang ada seperti sistem suplai air bersih dan sistem pembuangan air kotor, dan meningkatkan kegagalan dalam pemeliharaan atau perbaikan program kesehatan masyarakat dalam periode segera setelah bencana.
Dalam jangka panjang, peningkatan kasus penyakit bawaan vektor berlangsung di beberapa daerah karena terganggunya upaya pengendalian vektor, khususnya setelah terjadinya hujan lebat dan banjir. Insektisida residual pada bangunan akan tersapu hujan dan banjir, dan jumlah lokasi sarang nyamuk mungkin bertambah. Lagipula, pemindahan hewan liar atau hewan peliharaan ke tempat yang dekat dengan pemukiman manusia akan memberikan risiko tambahan infeksi zoonotik.
Pada bencana kompleks dengan akibat seperti malnutrisi, kepadatan penduduk, dan kurangnya sanitasi paling dasar, KLB besarbesaran gastroenteristis (akibat kolera atau penyakit lain) dapat terjadi, seperti di Rwanda/Zaire pada tahun 1994.

Perpindahan Penduduk
Jika terjadi perpindahan penduduk secara besar-besaran, spontan atau terkelola, suatu kebutuhan mendesak akan pemberian bantuan kemanusian terbentuk. Penduduk mungkin akan pindah ke daerah kota jika layanan umum tidak dapat menangani dan akibatnya adalah peningkatan angka kesakitan dan kematian. Jika banyak rumah yang hancur, perpindahan penduduk besar-besaran akan berlangsung dalam suatu wilayah perkotaan karena mereka mencari tumpangan baik di rumah teman maupun kerabat. Survei pemukiman dan perkotaan di sekitar Managua, Nikaragua, setelah gempa bumi Desember 1972, menunjukkan bahwa 80% sampai 90% dari 200.000 orang yang mengungsi tinggal bersama keluarga dan teman; 5% sampai 10% tinggal di taman, alun-alun kota, dan tanah kosong; dan sisanya tinggal di sekolah dan bangunan umum lainnya. setelah gempa bumi yang mengguncang Mexico City pada September 1985, 72% dari 33.000 tunawisma menemukan tempat penampungan di wilayah yang dekat dengan tempat tinggal mereka yang rusak.
Dalam konflik antarpenduduk, seperti yang terjadi di Amerika Tengah (1980-an) atau Kolombia (1990-an), pengungsi eksternal maupun internal kemungkinan tetap ada.

Pengaruh Cuaca
Bahaya kesehatan dari pajanan terhadap unsur-unsur cuaca tidak besar, bahkan setelah terjadi bencana di daerah beriklim sedang. Asalkan populasi tetap dalam kondisi kering, berpakaian layak pakai, dan dapat menemukan perlindungan terhadap angin, kematian akibat pajanan cuaca tampaknya bukan risiko utama pada penduduk Amerika Latin dan Karibia. Dengan demikian, kebutuhan untuk mendirikan tempat perlindungan darurat sangat beragam bergantung pada keadaan setempat.

Makanan dan Gizi
Kekurangan bahan pangan segera setelah bencana dapat muncul dalam dua cara. Kerusakan pada cadangan makanan di wilayah bencana dapat menyebabkan penurunan tajam jumlah makanan yang tersedia atau terputusnya sistem distribusi dapat menghalangi akses ke makanan walaupun kelangkaan yang sangat parah tidak terjadi. Kekurangan makanan yang merata dan cukup parah untuk menyebabkan masalah gizi tidak terjadi setelah gempa bumi.
Banjir dan gelombang pasang sering merusak persediaan makanan rumah tangga dan hasil panen, mengganggu jalur distribusi, dan menyebabkan kekurangan pangan setempat yang cukup berat. Distribusi makanan, setidak-tidaknya dalam waktu singkat, sering menjadi kebutuhan yang utama dan mendesak, tetapi impor/sumbangan makanan dalam skala besar tidak selalu diperlukan.
Pada musim kemarau panjang, seperti yang terjadi di Afrika, atau dalam bencana yang kompleks, tunawisma dan pengungsi dapat bergantung sepenuhnya pada somber persediaan makanan dari luar selama periode waktu yang berlainan. Bergantung pada kondisi gizi populasi, khususnya kelompok yang lebih rentan seperti ibu hamil atau ibu menyusui, anak-anak, dan lansia, program penyediaan makanan emergensi mungkin perlu dibentuk.

Persediaan Air dan Sanitasi
Sistem persediaan air minum dan pembuangan air kotor sangat rentan pada bahaya bencana dam, dan gangguan yang terjadi padanya akan menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Sistem itu sangat lugs, kerap dalam kondisi yang buruk, dan rentan terhadap berbagai jenis bahaya. Kekurangan dalam jumlah dan mutu air minum, dan kesulitan dalam pembuangan ekskreta serta limbah lainnya dapat mengakibatkan memburuknya sanitasi sehingga ikut memberikan sumbangan terhadap kondisi yang memudahkan penyebaran penyakit enterik dan penyakit lainnya.

Kesehatan Jiwa
Kecemasan, neurosis, dan depresi bukan masalah akut dan utama dalam kesehatan masyarakat yang terjadi setelah bencana. Keluarga dan pemukiman di daerah pedesaan atau masyarakat tradisional dapat mengatasinya dalam waktu singkat. Namun, satu kelompok yang berisiko tinggi tampaknya adalah tenaga relawan kemanusiaan atau pekerja itu sendiri. Apapun kemungkinannya, harus dilakukan upaya untuk melindungi keluarga dan struktur sosial masyarakat. Penggunaan obat pereda nyeri dan penenang selama Ease penyembuhan darurat sangat tidak dianjurkan. Pada daerah industri atau metropolitan di negara maju, masalah kesehatan jiwa dilaporkan cukup bermakna selama masa rehabilitasi jangka panjang dan selama masa rekonstruksi dan masalah itu harus dihadapi selama fase tersebut.

Kerusakan Infrastuktur Kesehatan
Bencana alam dapat menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas kesehatan dan sistem persediaan air bersih Berta sistem pembuangan air kotor, di samping dapat berdampak langsung pada kesehatan masyarakat yang mengandalkan layanan tersebut. Jika bangunan rumah sakit dan pusat kesehatan strukturnya tidak aman, bencana alam dapat membahayakan kehidupan penghuni gedung dan membatasi kapasitas pemberian layanan kesehatan bagi korban bencana. Gempa bumi yang mengguncang Mexico City tahun 1985 mengakibatkan runtuhnya 13 rumah sakit. Dari 3 bangunan itu Baja, 866 orang meninggal, 100 di antaranya adalah personel kesehatan. Hampir 6.000 ranjang rumah sakit hilang dari fasilitas-metropolitan itu. Akibat Angin Ribut Mitch tahun 1998, sistem penyediaan air di 23 rumah sakit di Honduras rusak atau hancur dan 123 pusat kesehatan terkena dampaknya. Peru melaporkan bahwa hampir 10% fasilitas kesehatan negara mengalami kerusakan sebagai akibat peristiwa El Nino tahun 1997-1998.

MASALAH KESEHATAN AKUT TERKAIT TIPS BENCANA
Gempa Bumi
Biasanya karena hancurnya tempat tinggal, gempa bumi menyebabkan banyak kematian dan mencederai banyak orang. Banyaknya korban sebagian besar bergantung pada tiga faktor.
Faktor pertama adalah tipe rumah. Rumah yang dibangun dari batako, batu bata, atau batu yang tidak kokoh, bahkan bangunan satu lantai pun, sangat tidak stabil dan keruntuhannya menyebabkan banyak kematian dan cedera. Bentuk kerangka bangunan yang ringan, khususnya kerangka kayu, sudah terbukti kurang berbahaya. Setelah gempa bumi tahun 1976 di Guetamala, misalnya, hasil survei memperlihatkan bahwa di sebuah desa yang berpenduduk 1.557 jiwa, semua korban yang meninggal (78) dan cedera berat berada dalam bangunan dari batako, sedangkan semua penghuni bangunan yang berkerangka kayu dapat selamat. Pada peristiwa gempa bumi yang merusak desa Aiquile dan Totora di Bolivia pada tahun 1998, 90% kasus kematian yang terjadi disebabkan oleh runtuhnya bangunan dari batako.
Faktor kedua adalah waktu pada hari terjadinya gempa bumi. Kejadian gempa bumi pada malam hari adalah yang paling mematikan di Guetamala (1976) dan Bolivia (1998), dengan kerusakan paling parch dialami oleh bangunan dari batako. Di daerah perkotaan dengan konstruksi rumah yang bagus, tetapi bangunan sekolah atau kantornya tidak kokoh, gempa bumi yang terjadi di siang hari menyebabkan angka kematian yang tinggi. Itu adalah kondisi kasus gempa bumi tahun 1997 yang menghantam kola Cumand dan Cariaco, Venezuela. Sebuah bangunan kantor yang runtuh di CumanA dan dua sekolah yang runtuh di Cariaco, mengakibatkan sebagian besar kasus kematian dan cedera.
Faktor terakhir adalah kepadatan penduduk: jumlah keseluruhan yang meninggal dan cedera kemungkinan jauh lebih tinggi di wilayah yang padat penduduknya.
Ada banyak variasi dampak di daerah-daerah bencana. Kematian sampai 85% terkadang terjadi di wilayah dekat pusat gempa bumi. Rasio jumlah kematian terhadap korban kasus cedera menu-run seiring semakin jauhnya jarak ke pusat gempa.
Beberapa kelompok usia lebih terpengaruh daripada kelompok usia lain; dewasa sehat lebih banyak yang selamat dibanding anak kecil dan lansia, yang kurang dapat melindungi diri sendiri. Namun, 72% kasus kematian akibat tertimpa runtuhan bangunan pada gempa bumi Meksiko tahun 1985 menimpa penduduk usia antara 15 dan 64 tahun (lihat Tabel 1.2).

Tabel 1.2. Distribusi kematian menurut kelompok usia akibat gempa bumi di Mexico City pada September 1985.

Kelompok usia (tahun) Kematian % kematian
Di bawah 1 tahun 173 4,8
1-4 143 4,0
5-14 287 8,0
15-24 770 21,5
25-44 1.293 36,1
45-64 519 14,5
65 tahun ke atas 226 6,3
Tidak jelas 168 4,7
Total 3.579 100

*Jenazah yang dikeluarkan dari tengah-tengah reruntuhan bangunan antara 19 September dan 29 Oktober 1985.
Sumber. General Directorate of investigation, Attorney General, Department of Justice, Mexico, D.F.

Bencana sekunder dapat terjadi setelah gempa bumi dan menambah jumlah korban yang memerlukan perhatian medis. Berdasarkan sejarah, risiko terparah adalah kebakaran walau dalam dekade terakhir, kebakaran pasca-gempa bumi yang menyebabkan banyak korban merupakan kejadian tidak biasa. Namun, akibat gempa bumi yang menghantam Kobe, Jepang tahun 1995, lebih dari 150 kebakaran terjadi. Sebanyak 500 kematian dihubungkan dengan kebakaran, dan sekitar 6.900 bangunan rusak. Upaya memadamkan kebakaran terhambat karena jalan penuh dengan reruntuhan dan puing bangunan, dan sistem penyaluran air rusak berat.
Hanya sedikit informasi yang ada tentang berbagai jenis cedera yang diakibatkan oleh gempa bumi, tetapi berapapun jumlah korbannya, pola umum cedera adalah cedera dengan luka ringan dan memar yang terjadi secara massal, hanya sebagian korban mengalami patah tulang ringan, sementara sangat sedikit koban yang mengalami patah tulang serius atau cedera internal lain yang memerlukan pembedahan dan perawatan intensif. Contoh, setelah gempa bumi di Meksiko tahun 1985, sejumlah 1.879 (14,9%) dari 12.605 pasien yang dirawat di layanan medis darurat (termasuk kasus yang paling wring) membut-uhkan rawat inap selama 24 jam.
Kebanyakan permintaan akan layanan kesehatan terjadi dalam 24 jam pertama setelah sebuah peristiwa berlangsung. Korban cedera terus mengalir ke fasilitas medis hanya selama tiga sampai lima hari pertama, setelah itu pola yang disajikan hampir kembali seperti keadaan normal. Satu contoh yang baik dari sangat pentingnya waktu perawatan kedaruratan terlihat dari jumlah pembayaran yang masuk ke rumah sakit di lapangan setelah gempa bumi tahun 1976 di Guetamala, yang ditunjukkan dalam Gambar 1.1. Dari enam hari ke depan, angka pasien masuk menurun tajam walau dilakukan penemuan kasus secara intensif di daerah pedesaan terpencil.
Pasien akan datang dalam dua gelombang, gelombang pertama terdiri atas korban bencana yang dekat dengan fasilitas medis dan gelombang kedua merupakan pasien rujukan karena kegiatan kemanusiaan di wilayah yang lebih terpencil telah terkelola.

Angin Ribut

Kecuali diperumit dengan terjadinya bencana sekunder seperti banjir atau gelombang pasang yang kerap dikaitkan dengannya, bencana angin ribut menyebabkan kasus cedera dan kematian yang relatif sedikit. Peringatan yang efektif sebelum terjadinya angin ribut semacam itu akan membatasi jumlah kesakitan dan kematian yang terjadi, dan kebanyakan kasus cedera relatif ringan. Kebanyakan dampak kesehatan masyarakat dari bencana angin ribut dan badai tropic terjadi akibat hujan lebat dan banjir, bukan akibat kerusakan oleh angin. Jumlah kematian yang paling parch—diperkirakan sebesar 10.000 kasus—yang dialami negara-negara di Amerika Tengah setelah Angin Ribut Mitch tahun 1998 terutama disebabkan oleh banjir dan longsoran Lumpur.

Banjir Bandang, Gelombang Pasang, dan Tsunami
Fenomena tersebut dapat menyebabkan banyak kematian, tetapi hanya mengakibatkan kasus cedera parah yang relatif sedikit setelahnya. Kematian terjadi terutama akibat tenggelam dan kematian semacam itu paling umum terjadi di kalangan penduduk yang paling lemah. Lebih dari 50% kasus kematian di Nikaragua setelah Angin Ribut Mitch tahun 1998 diakibatkan oleh banjir bandang dan longsoran lumpur dari lereng gunung berapi Casitas.

Gunung Berapi
Gunung berapi ditemukan di seluruh dunia dan cukup banyak penduduk yang kerap tinggal di dekat gunung tersebut. Tanah vulkanis yang subur sangat bagus untuk pertanian dan menarik untuk didirikan kota dan desa. Selain itu, gunung berapi memiliki masa takaktif yang lama, dan beberapa generasi tidak pernah menyaksikan letusan gunung berapi. Kondisi itu memicu penduduk untuk merasa aman, bukannya terancam, tinggal di dekat gunung berapi. Kesulitan dalam memprediksikan letusan gunung berapi juga memperumit situasi itu.
Letusan gunung berapi berdampak pada populasi dan infrastruktur dengan berbagai cara. Cedera traumatik langsung dapat terjadi jika terkena materi gunung berapi. Abu, gas, batu-batuan, dan magma yang super pangs dapat menyebabkan luka bakar yang cukup serius untuk membunuh seseorang secara tiba-tiba. Kerikil dan bebatuan yang berjatuhan juga dapat menyebabkan tulang patah dan tipe cedera remuk yang lain. Gas dan asap yang dihirup dapat menyebabkan gangguan pernapasan.
Fasilitas kesehatan dan infrastruktur lain dapat hancur seketika jika bangunan itu berada di jalur aliran piroklastik dan lahar (aliran lumpur yang mengandung reruntuhan vulkanis). Kumpulan abu di atas atap berisiko besar menyebabkan keruntuhan. Abu gunung berapi yang mengontaminasi lingkungan (mis., air dan makanan) juga dapat mengganggu kondisi kesehatan lingkungan; dampak ini semakin rumit saat penduduk hams dievakuasi dan ditempatkan di penampungan sementara.
Jika fase letusan berkepanjangan, seperti kasus di Montserrat, kepulauan Karibia, saat gunung berapi Soufriere Hill mulai meletus pada Juli 1995 dan berlanjut selama beberapa tahun, dampak kesehatan lain, seperti meningkatnya stres dan kecemasan pada penduduk yang tetap tinggal menjadi sangat penting. Penghirupan berkepanjangan abu yang mengandung silika mengakibatkan silikosis pare pada tahun-tahun selanjutnya.
Salah satu peristiwa yang paling membinasakan yang berlangsung di Amerika Latin pada November 1985 adalah meletusnya gunung berapi Nevado del Ruiz di Kolombia. Panas dan kekuatan gempa bumi melelehkan lapisan es di puncak gunung itu, mengakibatkan lahar ekstensif yang mengubur kota Armero, membina- sakan 23.000 orang dan mencederai 1.224 orang. Seluas 1000 km2 lahan pertanian utama di bagian bawah gunung berapi juga terkena dampaknya.

Banjir
Serangan banjir yang mulai secara perlahan menyebabkan kasus kesakitan dan kematian langsung yang relatif sedikit. Sedikit kenaikan dalam kasus kematian akibat gigitan ular berbisa telah dilaporkan, tetapi kondisi ini tidak begitu. bermakna. Cedera traumatik akibat banjir tidak banyak dan hanya memerlukan perhatian medis yang tidak seberapa. Walau tidak mengakibatkan meningkatnya frekuensi penyakit, banjir berpotensi memicu terjadinya KLB penyakit menular karma terganggunya layanan kesehatan masyarakat dasar dan memburuknya semua kondisi kehidupan. Masalah tersebut muncul terutama jika banjir berkepanjangan, seperti kejadian yang disebabkan oleh fenomena El Nifio pada tahun 1997 dan 1998.

Tanah Longsor
Tanah longsor menjadi bencana yang semakin umum ditemukan di Amerika Latin dan Karibia; penggundulan hutan secara besarbesaran, pengikisan tanah, dan pembangunan pemukiman manusia di daerah yang rawan longsor mengakibatkan bencana besar yang terjadi di tahun-tahun terakhir ini. Kasus semacam itu menimpa daerah perkotaan maupun pedesaan. Hujan akibat Badai Tropis Bret memicu terjadinya tanah longsor di pemukiman miskin di daerah pinggiran Caracas, Venezuela, pada Agustus 1993. Kurang lebih 100 orang meninggal dan 5.000 orang kehilangan tempat tinggal. Banyak korban meninggal terjadi di pertambangan emas kota Llipi, Bolivia, tahun 1992, scat tanah longsor mengubur seluruh desa, menewaskan 49 orang. Penebangan hutan juga memberikan sumbangan besar pada bencana tersebut, begitu pula dengan runtuhnya terowongan tambang. Bencana serupa terjadi di pertambangan emas di daerah Nambija, Equador, tahun 1993 yang merenggut 140 jiwa.
Pada umumnya, fenomena tersebut menyebabkan tingginya angka kematian walau kasus cedera relatif sedikit. jika ada struktur kesehatan (rumah sakit, pusat kesehatan, sistem penyediaan air) di tengah jalur tanah longsor, bangunan itu dapat rusak parch atau hancur.

MITOS DAN REALITAS BENCANA ALAM
Banyak asumsi yang keliru berkaitan dengan dampak bencana terhadap kesehatan masyarakat. Perencana dan manajer sektor bencana hares mengenal mitos dan realitas berikut:

Mitos: Tenaga medis relawan asing dengan latar belakang kedokteran banyak dibutuhkan.
Realitas: Penduduk setempat hampir selalu mencukupi sendiri kebutuhan dasar untuk hidup. Hanya tenaga medis dengan keahlian yang tidak tersedia di negara yang terkena bencana yang mungkin dibutuhkan.

Mitos: Berbagai jenis bantuan internasional dibutuhkan, dan dibutuhkannya itu segera!
Realitas: Reaksi terburu-buru yang tidak didasarkan pada hasil evaluasi yang jujur hanya akan menimbulkan kekacauan. Akan lebih baik jika menunggu sampai kebutuhan yang sebenarnya sudah dievaluasi. Kenyataannya, sebagian besar kebutuhan dapat dipenuhi oleh korban itu sendiri dan pemerintah serta lembaga lokal mereka, bukan oleh camper tangan orang asing.

Mitos: Epidemi dan wabah penyakit tidak dapat dihindari setelah berlangsungnya suatu bencana.
Realitas: Epidemi tidak terjadi begitu saja setelah bencana dan jenazah korban tidak akan menyebabkan berjangkitnya penyakit yang aneh. Kunci pencegahan penyakit terletak pada perbaikan kondisi sanitasi dan pendidikan masyarakat.

Mitos: Bencana membuat manusia memperlihatkan perilakunya yang paling buruk (mis., penjarahan, kerusuhan).
Realitas: Meskipun kasus khusus seperti sikap antisosial memang ada, kebanyakan orang menanggapi bencana secara cepat dan dermawan.

Mitos: Penduduk yang tertimpa bencana terlalu syok dan tidak berdaya untuk mengambil tanggung jawab atas kelangsungan hidup mereka sendiri.
Realitas: Sebaliknya, banyak ditemukan kekuatan barn selama masa darurat, sebagaimana yang terlihat dengan adanya ribuan tenaga relawan yang dengan spontan bersatu untuk bergantian mencari korban dalam reruntuhan bangunan setelah gempa bumf di Mexico City tahun 1985.

Mitos: Bencana adalah pembunuh acak.
Realitas: Serangan bencana dirasakan paling berat oleh kelompok yang paling rentan—kaum miskin, terutama wanita, anak-anak, dan lansia.

Mitos: Penempatan korban bencana di penampungan sementara merupakan alternatif terbaik.
Realitas: Alternatif itu seharusnya menjadi pilihan terakhir. Banyak lembaga yang menggunakan dana—yang biasanya dihabiskan untuk tenda—untuk membeli bahan-bahan bangunan, perlengkapan, dan bahan pendukung lain untuk konstruksi di negara yang tertimpa musibah.

Mitos: Segalanya kembali normal dalam beberapa minggu.

Realitas: Pengaruh bencana berlangsung dalam waktu yang lama. Negara yang tertimpa bencana menghabiskan cukup banyak sumber dana dan materinya selama masa-masa pascabencana. Program pemulihan yang sukses mempersiapkan kegiatannya dengan kenyataan bahwa ketertarikan dunia internasional akan berkurang sejalan dengan semakin besarnya kebutuhan dan kelangkaan sumber.

REFERENSI

http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam

http://www.ppk-depkes.org

Pan American Health Organization. 2006. Bencana Alam, Perlindungan Kesehatan Masyarakat. Terjemahan oleh Munaya Fauziah. Jakarta: EGC.

3 Komentar leave one →
  1. 24 Maret 2014 10:12 pm

    Reblogged this on traviataprakarti and commented:
    Health Disaster Management

Trackbacks

  1. Pengendalian Bencana | Little L
  2. Pengendalian Bencana | ISMKMI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arsip

  • %d blogger menyukai ini: