Skip to content

Mitigasi Bencana dalam Sektor Kesehatan

8 Oktober 2010

Memang hampir tidak mungkin untuk mencegah terjadinya suatu bencana yang sifatnya alami, tetapi dampak kerusakan yang ditimbulkannya dapat diminimalkan. Pada sebagian besar kasus, mitigasi ditujukan untuk mengurangi kerentanan sistem (misalnya dengan memperbaiki aturan bangunan), namun dalam beberapa kasus, aktivitas mitigasi ditujukan untuk mengurangi besarnya bahaya (misalnya dengan mengalihkan aliran sungai). Istilah pencegahan bencana menyiratkan bahwa eliminasi kerusakan akibat suatu bencana memang dimungkinkan, tetapi hal ini tidak realistis untuk sebagian besar bahaya.

 

Korban medis dapat diturunkan secara tajam melalui perbaikan mutu bangunan rumah, sekolah, dan bangunan umum lainnya. Walau upaya mitigasi bencana di sektor ini memiliki dampak kesehatan yang jelas, tanggung jawab langsung sektor kesehatan terbatas hanya dalam hal memastikan keamanan fasilitas kesehatan dan layanan kesehatan masyarakat, termasuk system penyediaan air bersih dan system pembuangan air limbah.

 

Mitigasi berarti mengambil tindakan-tindakan untuk mengurangi pengaruh-pengaruh dari satu bahaya sebelum bahaya itu terjadi. Istilah mitigasi berlaku untuk cakupan yang luas dari aktivitas-aktivitas dan tindakan-tindakan perlindungan yang mungkin diawali, dari yang fisik, seperti membangun bangunan-bangunan yang kuat sampai dengan yang prosedural, seperti teknik-teknik yang baku untuk menggabungkan penilaian bahaya di dalam rencana penggunaan lahan.

 

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU RI No. 24 tahun 2007) atau upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana.

 

Bentuk Mitigasi

  • Mitigasi struktural (membuat check dam, bendungan, tanggul sungai, rumah tahan gempa, dll.)
  • Mitigasi non struktural (peraturan perundang-undangan, tata ruang, pelatihan, dll)

 

Program mitigasi bencana dalam sektor kesehatan

 

Karena keragaman jenis dan biaya akitvitas mitigasi, prioritas pelaksanaan aktivitas semacam ini harus ditetapkan. Dalam sektor kesehatan, penetapan prioritas ini perlu bekerja sama dengan berbagai disiplin ilmu seperti kesehatan dan kebijakan publik, kesehatan masyarakat, administrasi RS, system penyediaan air, pembangunan, arsitektur, perencanaan, pendidikan, dll.

 

Program mitigasi akan mengarahkan aktivitas berikut:

  • Identifikasi daerah yang terkena bencana alam dan penentuan derajat kerentanan fasilitas kesehatan kunci dan sistem penyediaan air bersih
  • Koordinasi tugas tim multidisipliner dalam menyusun persyaratan desain dan bangunan yang dapat melindungi infrastruktur kesehatan dan distribusi air dari kehancuran akibat kejadian bencana. Standar bangunan dan desain RS lebih ketat dibandingkan standar dan desain bangunan lain karena RS bukan hanya melindungi kesehatan penghuninya tetapi juga harus tetap beroperasi untuk menangani korban bencana.
  • Pencakupan aktivitas mitigasi bencana dalam kebijakan sektor kesehatan dan dalam perencanaan dan pengembangan fasilitas baru. Langkah-langkah pengurangan bencana harus dimasukkan saat harus memilih daerah, material bangunan, peralatan dan tipe pengelolaan dan pemeliharaan di fasilitas itu
  • Identifikasi RS prioritas dan fasilitas kesehatan yang penting yang akan menjalani survey progresif dan penyesuaian kembali sehingga dapat sesuai dengan standar dan aturan bangunan yang berlaku.
  • Upaya mitigasi bencana dipertimbangkan dalam rencana pemeliharaan fasilitas, modifikasi struktural dan fungsional
  • Pemberitahuan, pemekaan dan pelatihan personil yang terlibat dalam perencanaan, administrasi, operasi, pemeliharaan, dan penggunaan fasilitas tentang mitigasi bencana sehingga praktik tersebut dapat dipadukan ke dalam aktivitas mereka
  • Memasukan program mitigasi bencana dalam kurikulum institusi pelatihan professional yang terkait dengan pembangunan, pemeliharaan, adminsitrasi, keuangan, dan perencanaan fasilitas kesehatan dan sistem distribusi air

 

Analisis derajat kerentanan fasilitas kesehatan

 

Kerentanan (vulnerability) adalah sekumpulan kondisi dan atau suatu akibat keadaan (faktor fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan) yang berpengaruh buruk terhadap upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana. Kerentanan adalah sekumpulan kondisi yang mengarah dan menimbulkan konsekuensi (fisik, sosial, ekonomi dan perilaku) yang berpengaruh buruk terhadap upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana.

Misalnya: penebangan hutan, penambangan batu, membakar hutan, dll.

 

Faktor-faktor Kerentanan

  • Fisik > kekuatan bangunan struktur (rumah, jalan, jembatan) terhadap ancaman bencana
  • Sosial > kondisi demografi (jenis kelamin, usia, kesehatan, gizi, perilaku masyarakat) terhadap ancaman bencana
  • Ekonomi > kemampuan finansial masyarakat dalam menghadapi ancaman di wilayahnya
  • Lingkungan > Tingkat ketersediaan / kelangkaan sumberdaya (lahan, air, udara) serta kerusakan lingkungan yang terjadi.

 

Fase pertama program mitigasi bencana adalah pelaksanaan analisis derajat kerentanan, yaitu untuk mengidentifikasi kelemahan sistem yang mungkin terkena bencana. Tujuan analisis ini untuk menetapkan prioritas baik untuk penyesuaian kembali atau perbaikan.

 

Sebuah tim multidisipliner (administrator kesehatan dan para ahli dalam bidang pengkajian bencana alam, kesehatan lingkungan, pembangunan, arsitektur, perencanaan, dll.) melakukan analisis derajat kerentanan. Tim tersebut akan mengidentifikasi bahaya potensial, mengklasifikasikan lokasi sistem (mutu tanah, jalur akses, dll), menentukan perkiraan kinerja dari sistem, dan menganalisis jalannya upaya pemeliharaan. Analisis derajat kerentanan harus dilaksanakan secara rutin karena baik bahaya maupun kerentanan berubah seiring waktu.

 

Mitigasi bencana dalam fasilitas kesehatan

Standar bangunan untuk fasilitas kesehatan berbeda dari standar bangunan pada umumnya, khususnya bangunan fasilitas kesehatan yang akan lebih mendapat tekanan untuk menangani kasus kedaruratan medis pascabencana. Langkah-langkah mitigasi di RS harus diorientasikan untuk: 1) menghindari hilangnya kehidupan pasien dan staf, 2) memastikan bahwa RS dapat berfungsi dengan benar setelah tertimpa bencana

 

Berikut faktor-faktor yang harus dipertimbangkan saat melaksanakan analisis derajat kerentanan dan menyusun rencana mitigasi untuk fasilitas medis:

  • Elemen struktural: komponen penahan beban bangunan (tiang pancang, pilar penahan, dan dinding)
  • Elemen non-struktural: arsitektur (dinding luar non penahan, dinding padat, sistem partisi, jendela, peralatan pencahayaan, dan langit-langit), sistem penunjang (sistem penyediaan air, listrik dan sistem komunikasi), dan isi gedung (obat-obatan, persediaan, peralatan, dan perabot)
  • Elemen fungsional: desain fisik (lokasi, distribusi ruangan internal dan eksternal, jalur akses), pemeliharaan, dan administrasi

 

Analisis komponen struktural harus dijalankan terlebih dahulu karena hasilnya akan digunakan untuk menentukan kerentanan elemen nonstructural dan fungsional. Begitu kelemahan fasilitas diidentifikasi, rencana mitigasi dapat dikembangkan.

 

Mitigasi bencana dalam sistem penyediaan air dan air limbah

 

Sistem penyediaan air minum dan pembuangan air limbah di daerah kota dan pedesaan merupakan sistem yang paling rentan terhadap bencana alam. Sistem ini sangat luas dan seringkali dalam kondisi yang terabaikan. Jika persediaan air tercemar akibat bencana, risiko penduduk untuk tertular penyakit semakin tinggi, dan sanitasi pun dengan cepat akan memburuk. Dampak kesehatan yang tidak langsung ini seringkali sulit untuk dievaluasi dan biaya untuk memperbaiki sistem ini umumnya sangat tinggi.

 

Otoritas yang mengoperasikan dan memelihara sistem penyediaan air harus memiliki strategi yang ditujukan untuk mengurangi kerentanan sistem ini terhadap bencana alam dan prosedur untuk memulihkan secara cepat dan efektif layannan ini jika terjadi bencana. Masalahnya adalah kenyataan bahwa sistem penyediaan air minum dan pembuangan air limbah tersebar di daerah yang luas, tersusun dari berbagai material, dan dapat terkena berbagai jenis bahaya, antara lain tanah longsor, banjir, angin kencang, letusan gunung berapi, atau gempa bumi.

 

Fokus kegiatan tim mitigasi meliputi:

  • Kegiatan operasional dan pemeliharaan. Tim akan menganalisis bagaimana kinerja seluruh sistem. Faktor penting untuk penyediaan air minum adalah kapasitas sistem, jml persediaan, kontinuitas layanan, dan mutu air. Untuk sistem pembuangan air limbah adalah cakupan, kapasitas drainase, mutu efluen. Informasi mengenai kerentanan dari komponen khusus (inlet, saluran perpipaan, instalasi pengolahan, tangki penampungan, sistem drainase, dll) menunjukkan bagaimana kegagalan salah satu komponen akan memengaruhi keseluruhan kinerja
  • Administrasi. Tim ini menegaskan kemampuan perusahaan layanan air untuk memberikan respon yang efektif dengan cara mengkaji program kesiapsiagaan, tanggapan, dan program mitigasi. Mekanisme dalam situasi darurat dan dukungan logistik yang diperlukan (tenaga pelaksana, transportasi, dan peralatan) untuk memperbaiki layanan.
  • Dampak pada pelayanan. Tim akan menganalisis dampak potensial berbagai bahaya terhadap komponen yang spesifik. Perhatian khusus akan diberikan ke lokasi suatu komponen dan risiko yang ada di suatu daerah, kondisinya dan seberapa genting masalah itu terhadap kinerja keseluruhan sistem. Tim ini juga mengestimasi waktu yang diperlukan untuk kegiatan perbaikan, jumlah sambungan yang rusak, dan penurunan mutu dan kuantitas air yang akan dihasilkan dalam kondisi terbatas itu.

 

Langkah-langkah mitigasi sistem pelayanan air

  • Penyesuaian
  • Penggantian
  • Perbaikan
  • Penempatan  peralatan cadangan
  • Peningkatan akses

 

Referensi

1) A.W. Copburn dkk. 1994. Mitigasi Bencana untuk Program Pelatihan Manajemen Bencana. UNDP

2) Pan American Health Organization. 2006. Bencana Alam, Perlindungan Kesehatan Masyarakat. Terjemahan oleh Munaya Fauziah. Jakarta: EGC.

3) UU NO 24 tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana

4) PP NO 64  tahun 2010 Tentang Mitigasi Bencana Di Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil

5) Kepmenkes No. 145/Menkes/SK/I/2007 tentang Pedoman Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arsip

  • %d blogger menyukai ini: