Skip to content

TOKSIKOLOGI PESTISIDA

6 Desember 2010

MANFAAT PESTISIDA

Pestisida adalah zat untuk membunuh atau mengendalikan hama. Hama yang paling sering ditemukan adalah serangga. Beberapa diantaranya berlaku sebagai vektor untuk penyakit. Insektisida dapat membantu mengendalikan penyakit-penyakit tersebut. Serangga juga merusak berbagai tumbuhan dan hasil panenan. Karena itu, insektisida dipergunakan secara luas untuk melindungi berbagai produk pertanian. Meskipun kebanyakan insektisida yang dipergunakan sekarang ini adalah bahan kimia sintetis, beberapa zat alami telah digunakan oleh petani sejak zaman dahulu. Zat ini antara lain adalah nikotin dari tembakau. Selain gangguan serangga, gangguan yang amat penting bagi para petani adalah rumput liar. Sebelum herbisida dikenal, petani membuang rumput liar dengan tangan. Pestisida juga telah dikembangkan untuk mengendalikan hama lain, misalnya jamur dan hewan pengerat. Beberapa produk pestisida rumah tangga untuk mengendalikan hama yang mengganggu di rumah, misalnya lalat dan nyamuk.

EFEK BURUK PESTISIDA

Efek buruk ini dapat menyangkut kesehatan manusia dan/atau lingkungan. Beberapa peristiwa keracunan massal oleh senyawa metil merkuri dan etil merkuri, heksaklorobenzen sebagai fungisida, serta paration. Kasus keracunan akut individual biasanya terjadi akibat memakan sejumlah besar pestisida secara tidak sengaja atau untuk bunuh diri. Pajanan pestisida di tempat kerja dapat mengenai para pekerja yang terlibat dalam pembuatan, formulasi, dan penggunaan pestisida. Biasanya pestisida masuk ke dalam tubuh melalui saluran napas dan absorpsi kulit, tetapi sejumlah kecil dapat memasuki saluran gastrointestinal karena menggunakan tangan atau peralatan yang tercemar. Jenis keracunan ini akan lebih mungkin terjadi bila dipakai pestisida yang menyebabkan keracunan akut. Tetapi masalah utama bagi kesehatan masyarakat adalah adanya residu pestisida dalam makanan, karena ini dapat melibatkan sejumlah besar orang selama jangka waktu yang panjang. Selain berbahaya bagi kesehatan manusia, pestisida dapat mempunyai dampak berbahaya bagi lingkungan. Terlepas dari pelepasan pestisida ke lingkungan secara besar-besaran akibat kecelakaan, pestisida yang ditemukan dalam berbagai medium lingkungan hanya sedikit sekali. Tetapi kadar ini mungkin akan lebih tinggi bila pestisida ini tersebut bertahan di lingkungan dan/atau mempunyai kecenderungan untuk biomagnifikasi. Dalam kasus yang belakangan ini, konsentrasi suatu pestisida terus meningkat sementara zat ini bergerak melalui rantai trofik. Bila konsentrasinya dalam suatu organisme telah tinggi, pengaruh buruk dapat terjadi. Pencemaran lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan manusia lewat tanah dan air yang tercemar yang kemudian mencemari produk makanan manusia dan air minum.

PENGGOLONGAN PESTISIDA

Pestisida biasanya dikelompokkan berdasarkan penggunaannya dan sifat kimianya. Kelompok utama pestisida adalah sebagai berikut:

Insektisida

Insektisida merupakan kelompok pestisida yang besar dan terdiri atas beberapa subkelompok kimia yang berbeda Organofosfat. Insektisida ini adalah ester asam fosfat dan tiofosfat seperti diklorvos dan paration. Mereka bekerja menghambat asetikolinesterase (AchE), mengakibatkan akumulasi asetilkolin (Ach). ACh yang berlebihan menyebabkan berbagai jenis simtom dan tanda-tanda. Beratnya gejala kurang lebih berkorelasi dengan tingkat penghambatan kolinesterase dalam darah, tetapi hubungan yang tepat tergantung pada senyawanya. Selain paration dan diklorvos, pestisida lain dalam kelompok ini adalah Gution, diazinon, Dipterex. Karbamat. Kelompok ini merupakan ester asam N-Metilkarbamat. Zat ini juga bekerja menghambat AChE. Tetapi pengaruhnya terhadap enzim tersebut jauh lebih reversibel daripada efek organofosfat. Contohnya adalah karbaril (Sevin), aldikarb (Temik), karbofuran, metomil, propoksur (Baygon). Selain itu tanda-tanda toksisitas karbamat muncul lebih cepat, karbamat lebih aman daripada organofosfat. Organoklorin. Insektisida ini meliputi turunan etana berklor, siklodien, dan heksaklorosiklo-heksan. Contohnya adalah DDT yang pernah dipergunakan secara luas dalam pertanian dan program kesehatan. DDT dipergunakan karena toksisitas akutnya relatif rendah dan mampu bertahan lama dalam lingkungan sehingga tidak perlu disemprotkan berulang kali. Tetapi kemampuannya bertahan dalam lingkungan belakangan dianggap sebagai suatu kekurangan bukan kelebihan. Insekstisida tanaman dan insektisida lain. Insektisida ini antara lain adalah nikotin dari tembakau. Zat ini sangat toksik secara akut dan bekerja pada susunan saraf. Selain itu banyak mikroorganisme diketahui bersifat patogen terhadap serangga.

Herbisida

Ada beberapa jenis herbisida yang toksisitasnya pada hewan belum diketahui dengan pasti.

Fungisida

Senyawa merkuri, misalnya metil dan etilmerkuri merupakan fungisida yang sangat efektif dan telah dipergunakan secara luas untuk mengawetkan butir padi-padian. Tetapi beberapa kecelakaan tragis yang meyebabkan banyak kematian dan kerusakan neurologi menetap terjadi akibat penggunaannya. Karena adanya fakta ini, bahan kimia tersebut kini tidak digunakan lagi.

Rodentisida

Pestisida jenis ini antara lain rodentisida organik seperti zink fosfid, talium sulfat, arsenik trioksid, dan unsur fosfor yang bekerja melalui mekanisme yang berbeda. Rodentisida bekerja untuk mengendalikan hewan pengerat dan kurang toksik bagi manusia.

Fumigan

Kelompok pestisida ini mencakup beberapa gas, cairan yang mudah menguap, dan zat padat yang melepaskan berbagai gas lewat reaksi kimia. Dalam bentuk gas zat-zat ini menembus daerah penyimpanan dan tanah untuk mengendalikan serangga, hewan pengerat, dan nematoda tanah.

TOKSISITAS PESTISIDA

Toksisitas terhadap susunan saraf

Organoklorin merangsang sistem saraf dan menyebabkan parestesia, peka terhadap perangsangan, iritabilitas, terganggunya keseimbangan, tremor, da kejang-kejang. Beberapa zat kimia ini menginduksi fasilitasi dan hipereksitasi pada taut sinaps dan taut neuromuskuler yang mengakibatkan pelucutan berulang pada neuron pusat, neuron sensorik, dan neuron motorik. Organofosfat dan karbamat menghambat AChE. Biasanya neurotransmiter ACh dilepaskan pada sinaps itu. Sekali impuls saraf disalurkan, ACh yang dilepas dihidrolisis oleh AChE menjadi asam asetat dan kolin di tempat itu. Sewaktu terpajan OP dan karbamat, AChE dihambat sehingga terjadi akumulai ACh. ACh yang ditimbun dalam SSP akan menginduksi tremor, inkoordinasi, kejang-kejang, dll. Dalam sistem saraf autonom akumulasi ini akan menyebabkan diare, urinasi tanpa sadar, bronkokonstriksi, miosis, dll. Akumulasinya pada taut neuromuskuler akan mengakibatkan kontraksi otot yang diikuti dengan kelemahan, hilangnya refleks, dan paralisis. Penghambatan AChE yang diinduksi oleh karbamat dapat pulih dengan mudah, sedangkan pajanan berikutnya terhadap senyawa OP biasanya lebih sulit pulih.

Karsinogenisitas

Organofosfat umumnya tidak bersifat karsinogenik, kecuali senyawa yang mengandung halogen, misalnya tetraklorinvos. Karbamat sendiri juga tidak bersifat karsinogenik. Tetapi bila ada asam nitrit, karbaril telah terbukti dapat membentuk nitrosokarbaril yang bersifat karsinogenik. Organoklorin yang diuji semuanya telah terbukti menginduksi hepatoma pada mencit.

Teratogenisitas dan Efek pada Fungsi Reproduksi

Pada akhir tahun 1960-an, muncul berbagai artikel yang melaporkan berbagai jenis efek teratogen dan efek reproduksi akibat karbaril pada anjing. Penelitian pada tikus yang diberi karbaril tidak membuktikan adanya efek pada berbagai fungsi reproduksi dan tidak ada teratogen. Pestisida lain yang dilaporkan mempunyai efek teratogen ialah fungisida ditiokarbamat.

Efek buruk lain

Efek khusus karbaril pada ginjal dilaporkan terjadi pada sekelompok sukarelawan manusia yang diberi karbaril dengan dosis 0,12 mg/kg setiap hari selama 6 minggu. Parakuat menyebabkan edema paru-paru, perdarahan, dan fibrosis setelah penghirupan atau termakan, tetapi herbisida yang berkaitan erat, yaitu dikuat, tidak menunjukkan efek tersebut. Reaksi hipersensitivitas terhadap piretrum telah dilaporkan. Bentuk yang paling umumadalah dermatitis kontak. Asma juga telah dilaporkan. Organoklorin bersifat hepatotoksik, menginduksi pembesaran hati dan nekrosis sentrolobuler. Zat ini juga merupakan penginduksi monooksigenase mikrosom, sehingga dapat mempengaruhi toksisitas zat kimia lain. Beberapa organofosfat, karbamat, organoklorin, fungisid ditiokarbamat, dan herbisid mengubah berbagai fungsi imun. Contohnya malation, metilparation, karbaril, DDT, parakuat, dan dikuat telah terbukti dapat menekan pembentukan antibodi, mengganggu fagositosis leukosit, dan mengurangi pusat germinal pada limpa, timus dan kelenjar limf.

Bioakumulasi dan Biomagnifikasi

Sifat ini secara sendiri tidak selalu merupakan efek biologis yang merugikan. Sifat ini biasanya berhubungan dengan zat yang bersifat lipofilik dan resisten terhadap perusakan. Pestisida organoklorin umumnya lebih mampu bertahan di lingkungan dan cenderung disimpan dalam timbunan lemak. Tetapi bioakumulasi lebih nyata pada beberapa zat kimia dibanding dengan zat lainnya. Contohnya DDT jauh lebih lama tersimpan dalam lemak tubuh dibanding metoksiklor. Kemampuannya bertahan dalam lingkungan dapat menimbulkan masalah ekologis. DDT dan zat kimia yang berkaitan dengan lingkungan meningkatkan metabolisme estrogen pada burung. Dalam siklus bertelur dan bersarang pada burung tertentu, gangguan hormon ini berpengaruh buruk pada reproduksi dan kelangsungan hidup anak burung itu. Biomagnifikasi dapat terjadi akibat bioakumulasi dalam organisme itu saja atau kemampuannya bertahan di lingkungan. Contohnya DDT bersifat lipofilik dan karenanya terdapat pada cairan tubuh yang berlemak termasuk susu. Meskipun asupan DDT per hari pada ibu 0,5 mg/kg, bayi yang disusuinya mungkin mendapat asupan sebesar 11,2 mg/kg. Pembesaran ini berasal dari fakta bahwa DDT tersimpan dalam tubuh manusia pada tingkat asupan harian kronik 10-20 kali lipat dan bayi itu pada dasarnya hanya mengkonsumsi susu saja. Biomagnifikasi bahkan lebih jelas pada hewan karnivora. DDT dan metil merkuri dapat terakumulasi melalui rangkaian palnkton, ikan kecil, ikan besar, dan burung yang mengakibatkan pembesaran konsentrasi beberapa ratus kali.

REFERENSI

1)  David Weir & Mark Schapiro. 1985. Lingkaran Racun Pestisida. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan

2) Des W. Connel & Gregory J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

3) E.J. Ariens, E. Mutschler & A.M. Simonis. 1987. Toksikologi Umum, Pengantar. Terjemahan oleh Yoke R.Wattimena dkk. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

4) Frank C. Lu. 1995. Toksikologi Dasar. Terjemahan oleh Edi Nugroho. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

5) Isvasta Ekha. 1991. Dilema Pestisida, Tragedi Revolusi Hijau. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

6) J. H. Koeman. 1987. Pengantar Umum Toksikologi. Terjemahan oleh R.H. Yudono. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

7) Louis A. Helfrich et.al. 1996. Pesticides and Aquatic Animals: A Guide to Reducing Impacts on Aquatic Systems. http://www.ext.vt.edu/pubs/waterquality/. Accessed 23 Oktober 2003

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arsip

  • %d blogger menyukai ini: